Januari 8, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Independent Chef of Indonesian Culinary

“Kuliner Nusantara itu berasal dari keluarga, baik keluarga besar maupun keluarga kecil. Itulah yang menjadikan Kuliner Nusantara beragam, bukan dari pemerintah atau peninggalan kolonial tapi dari keluarga itu sendiri dulu, kuliner ini sudah tertular dari nenek moyang kita.” – Chef Ucu Sawitri

“Keluarga adalah sebuah awal,” Demikian Chef Ucu Sawitri membuka obrolannya. Dari kecil memang hobi memasak, mengenal masakan dari ibu, nenek dan buyutnya. Berawal dari menjadi seorang ibu yang memasak di rumah, setelah merasa nyaman mulai belajar lebih serius dan mendapatkan gelar Chef dari Amerika Serikat. Menurutnya perempuan Indonesia secara budaya dan sosialisasi lebih cocok untuk bekerja di rumah karena ibu di Indonesia lebih memilih untuk mengurus keluarganya sendiri, bisa menambah penghasilan juga dari rumah. Untuk alasan ini juga dia memilih untuk bekerja sendiri tidak turun ke industri kuliner secara langsung. Oleh karena itu pula teman-teman dan kolega-koleganya menjulukinya Independent Chef.

Diakuinya menjadi seorang Independent Chef memiliki keunikan tersendiri dimana management yang notabene memiliki warna sendiri, semua diatur sendiri, bernegosiasi dengan para user dan pihak sponsor secara independent, memberikan edukasi mandiri. Pada intinya harus benar-benar mandiri. Cara kerja seorang Chef Independent bisa digambarkan seperti ini, misalnya perusahaan A ingin mensosialisasikan produknya untuk diaplikasikan ke setiap masakan di rumah, Chef Independent harus bisa membuat resep dan dituntut kreatif. Merencanakan apa yang akan kita kerjakan sendiri.

Menurutnya hampir semua ibu-ibu di Indonesia itu jago masak, mereka datang ke acara demo masak itu bukan untuk belajar tapi sharing, berbeda dengan ibu-ibu dari Eropa dan Amerika yang tidak punya waktu untuk belajar. Seorang Independent Chef akan lebih terlihat profesional atau tidak pada saat acara off air, ujian tiba ketika ibu-ibu tersebut bertanya diluar konten, apakah bisa kita menjawabnya?

Untuk menjadi Independent Chef seperti sekarang diakui oleh Chef Ucu Sawitri tidak diraih dalam waktu yang singkat. Awalnya menjual masakannya, lama-lama teman-teman ingin kursus, akhirnya disponsori oleh produk makanan. Namun tetap saja yang terpenting menurutnya adalah jam terbang, berapa banyak karya yang sudah dibuat dan berapa sponsor yang sudah bekerjasama dengannya, itu yang lebih diperhitungkan. Perjalanan yang cukup panjang untuk dapat dipercaya oleh pihak terkait. Memiliki pemikiran yang sederhana tapi harus bisa menempatkan diri, itu yang penting bagi seorang Independent Chef

15 tahun terakhir ini Chef Ucu Sawitri lebih memfokuskan diri ke bidang pastry. Dia menyadari bahwa bakat seni yang dimilikinya cukup tinggi, oleh karena itu dia tidak mau mengabaikan bakat yang dimilikinya. Menurutnya seni sangat diperlukan dalam pastry, tantangan yang dihadapi pun lebih banyak dan lebih detail. Lidahnya sangat terlatih dengan kue karena sejak kecil memang sudah menggemarinya. “Kue Nusantara itu tidak kalah dengan kue-kue barat atau asia lainnya, hanya saja kita kekurangan promosi dan dukungan dari pemerintah,” ujarnya bersemangat. Agar kue nusantara bisa mendunia diperlukan kerjasama yang kuat antar pelaku kuliner, beri kesempatan industri rumahan untuk besar, yang sudah besar menjadi bapak angkat industri yang masih kecil. Menjadi sebuah pekerjaan rumah baginya untuk dapat memperpanjang umur-umur kue nusantara yang ketahanannya lebih singkat dibanding kue lainnya, mengemas dengan menarik, dan promosi yang baik.

Masakan Nusantara adalah aset budaya berharga yang harus dilestarikan dan aset terbesar itu ada pada ibu-ibu rumah tangganya.  Kadang chef-chef muda kita tidak menyadari dan berpikir mereka lebih pintar, padahal ibu-ibu di rumah lebih jago masak karena mereka dibesarkan di keluarga yang memang jago masak yang menularkannya langsung pada mereka. Untuk kedepan cita-citanya adalah bekerjasama dengan pemerintah membuat standarisasi bagi semua chef-chef dan memberikan mereka sertifikat kelayakan memasak masakan nusantara. Pun halnya dengan chef ekspatriat yang bekerja di Indonesia, mereka harus memiliki sertifikasi masakan nusantara. Sudah saatnya Kuliner Nusantara menjadi kiblat masakan dunia. Jika bukan kita siapa lagi yang dapat melestarikannya. Tanpa ragu Chef Ucu Sawitri menyebutkan, Ibu, eyang dan buyutnya yang telah memperkenalkan masakan nusantara padanya sedari kecil sebagai chef panutan.

Tugas lainnya adalah membina independent-independent chef muda yang belum memiliki kesempatan untuk muncul. Mereka memiliki kemampuan namun juga memiliki kekurangan dalam hal komunikasi. Di organisasi Ikatan Praktisi Kuliner Indonesia, dia mencoba memberikan pembelajaran untuk bagaimana menjadi Chef Independent yang baik. Sebagai penutup Chef Ucu Sawitri berpesan bahwa, “menjadi Independent Chef itu sejauh mana kita terjun di dunia kuliner, jangan hanya untuk mencari ketenaran saja tapi tunjukan bahwa kita punya kualitas dan bertanggungjawab terhadap apa yang kita kerjakan. harus jujur bilang kita bisa atau tidak”.

 

Exclusive interview Chef Ucu Sawitri dengan Donnie Kurniawan, Senior Reporter Warna Nusantara

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *