Chef Tentara
Februari 19, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Chef Tentara

“Chef itu seperti hujan yang turun membasahi kebun, kebun itu kemudian tumbuh subur, kita akan pergi ke kebun yang lain untuk membasahi, membuat jadi tumbuh, menyuburkan tempat yang lain.” – Chef Feisal Rahman, Executive Chef, Savoy Homann Hotel Bandung

Tidak cukup diam di satu tempat saja, seperti hujan yang hanya diam di satu tempat saja akan menghalangi sinar matahari. Belum berhasil baginya jika belum mampu mencetak penerus yang bukan hanya dapat berkarier bagus di dapur bahkan dapat melampauinya. Berhasil di satu tempat maka lanjut untuk menyuburkan tempat lain. Setidaknya itu dulu yang dapat dilakukan oleh Chef Tentara.

 

Sebelum berkarier di dapur hotel, Chef Feisal memang bercita-cita untuk menjadi tentara. Mungkin memang bukan itu jalan hidupnya, setelah beberapa kali mengikuti tes selalu gagal hingga akhirnya bergabung ke Sekolah Perhotelan Borobudur. Di tempat ini dia ditempa oleh chef-chef bertaraf internasional serta nasional yang bukan hanya menempanya untuk mampu menyajikan makanan barat namun nusantara. Karena penampilan tentaranya pula Chef Feisal mendapat julukan Chef Army alias tentara. Berkat tempaannya disini pula yang mengasahnya hingga akhirnya mampu melanglangbuana ke luar negeri.

Pengalaman pertama wawancara kerja yang unik pula berhasil membuatnya bergabung bekerja di dapur hotel. Ketika ditanyakan apa yang akan dilakukan jika tidak ada orang tua dirumah sedangkan kulkas penuh dengan bahan-bahan untuk membuat makanan, jawabnya cukup pergi ke depan untuk beli nasi padang. Tidak dinyana ternyata jawaban itu sangat dihargai oleh sang Executive Chef yang mewawancarainya sambil berujar itulah jawaban terjujur yang dia dengar hari itu, walaupun jawaban itu pula yang membuatnya tergelak. Jawaban lain yang membuatnya diterima adalah alasannya ingin makan makanan hotel yang mewah secara cuma-cuma. Ternyata memang dengan memakan makanan tersebut maka seorang chef akan tahu bagaimana rasanya dan akan berinovasi dengan rasa-rasa tersebut.

Hal ini pula yang diterapkan didapurnya, semua juniornya untuk wajib mencicipi makanan yang dibuatnya bahkan makanan di luar hotel yang akan diciptakan nanti. Diwaktu senggang apa yang menjadi inovasi dan kreasinya dicatat kedalam buku karena suatu saat pasti akan dibutuhkan.

Walaupun tidak menjadi tentara setidaknya ketegangan menjadi seorang tentara dialaminya juga dimana dua kali hotel tempatnya bekerja diledakan bom teroris. Walaupun mengaku sempat trauma hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja di Bandung. Mental sebagai prajurit juga dia tunjukan ketika bekerja dengan seorang Chef keturunan tionghoa berkebangsaan Malaysia. Betapa kerasnya dia mendidik Chef Army hingga pada satu titik dia berkata bahwa suatu saat dia akan bangga melihatnya berhasil berkarier di dapur bahkan mampu mengalahkan sang chef. Bahkan berkat rekomendasinya Chef Feisal dapat menjadi Executive Chef di sebuah hotel ternama.

Seluruh kemampuan dan pengalamannya di dunia dapur hotel sekarang ini dia curahkan semuanya di Savoy Homann Hotel Bidakara, Bandung. Hotel yang bersejarah bukan hanya bagi Kota Bandung namun pula Indonesia. Sudah hampir 50 menu baru dia ciptakan walaupun makanan-makanan yang sudah menjadi ikon disana tidak dia hilangkan. Karena hotel ini identik dengan peninggalan kolonialnya maka Chef Feisal pun mencoba menghadirkan makanan pada masa itu. Contohnya adalah Soto Tangkar, konon pada masa itu ketika orang-orang Belanda menyembelih sapi hanya bagian tenderloin dan sirloinnya saja yang mereka ambil sedang bagian tulang serta jeroannya diserahkan pada kaum pribumi, dari bahan-bahan inilah akhirnya tercipta makanan ini. Demikian pula dengan kue-kue masa kolonial dengan resep asli dari Belanda akan dihadirkan disini pula. Tentu juga ini semua dibuat untuk memuaskan hotel yang hingga kini sebanyak 40% pengunjungnya adalah oma-oma dan opa-opa dari sana.

Memang jalan hidup tidak pernah kita tahu walaupun demikian pada akhirnya akan kita nikmati pula. Bahkan apa yang ada di benak kita dulu tidak seindah apa yang kita kerjakan hari ini. Seperti juga Chef Feisal sang Chef tentara yang ingin terus seperti hujan memberikan kesuburan dimana-mana tanpa harus menghalangi matahari untuk tetap bersinar.

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *