Cemilan yang Bikin Kenyang
Maret 29, 2016
Warna Nusantara (339 articles)
0 comments

Cemilan yang Bikin Kenyang

“Peralatan memasak orang Jawa sangat sederhana, terbuat dari tanah liat atau tembaga. Beras yang telah ditumbuk kemudian dikukus, seringkali dimasak dengan sedikit air. Beras yang dikukus akan menjadi nasi yang putih dan harum, dan seringkali dijual di pasar atau pinggir jalan.” – Thomas Stamford Raffles, History of Java

Secuil catatan di tahun 1815 ini sedikitnya menggambarkan tradisi menanak dan mengkonsumsi nasi masyarakat di pulau Jawa. Berlimpahnya beras sebagai makanan pokok pun tergambar pula dalam bukunya. Hingga kini bersyukurnya tradisi ini tidak banyak tergeser. Mungkin peralatan menanaknya yang jauh lebih maju. Dari beras menjadi nasi dan karena kelimpahannya itu nampaknya nenek moyang kita kreatif untuk membuat menu lain selain nasi. Sebetulnya bukan karena hal itu juga, karena keterpaksaan lebih jelasnya. Keterpaksaan yang memunculkan kreatifitas. Hidup susah di masa penjajahan mengharuskan mereka mampu bertahan dengan lauk pauk yang seadanya. Mereka berpikir keras untuk menciptakan makanan yang mampu bertahan lama atau variasi makanan yang lain hanya dengan satu menu utama, bahkan bisa menciptakan cemilan yang bikin kenyang.

Mungkin dengan bergilirnya waktu cemilan ini termasuk kedalam menu utama mereka. Seperti contohnya awug, atau masyarakat betawi mengenalnya dengan sebutan kue dongkal. Pada jamannya awug hanya dibuat pada saat panen saja. Bentuknya yang kerucut mengingatkan kita kepada rupa tumpeng. Secara filosofi jawa bentuk kerucut melambangkan gunung atau dapat diartikan keagungan tuhan. Rupa inipun bisa diartikan sebagai bentuk tangan yang sedang menyembah Tuhannya. Bahan pembuat awug utamanya adalah tepung beras serta gula merah, ditambahi parutan kelapa. Dua warna ini secara harfiah bisa dilambangkan sebagai keseimbangan dalam hidup. Jadi awug ini dihidangkan pada saat panen sebagai ucapan syukur atas kelimpahan yang mereka terima.

Selain makna harfiah di atas jika kita telaah dari kandungan gizinya, makanan ini mengandung karbohidrat yang tinggi serta gula yang bisa menghasilkan sumber tenaga. Satu bentukan awug itu mampu mengenyangkan warga sekampung. Tentunya pula awug bisa dipergunakan sebagai varian pengganti nasi yang standar disertai lauk pauk lain.

Hingga kini walaupun sedikit namun masih ada penjaja awug khususnya di Kota Bandung. Fungsinya yang bergeseran dari makanan kenduri hingga menjadi cemilan menjadikan makanan ini bisa diklasifikasikan ke dalam jajanan pasar. Tak ada yang berubah dengan bentukannya yang kerucut namun tidak banyak pula yang membeli dengan bentukan ini, si awug sekarang disajikan sudah berbentuk potongan atau irisan.

Memang terkadang keterpaksaan dapat menghasilkan ide-ide yang cemerlang. Seperti contohnya awug ini. Makanan yang kecil namun karena bentuk serta kandungan gizinya dapat memenuhi isi perut orang sekampung, pas dengan kehidupan di jaman penjajahan. Hingga kini hal ini terbukti, walaupun sedikit namun awug merupakan cemilan yang bikin kenyang.

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *