Agustus 26, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Caudo dari Lamongan yang Ada Dimana-mana

Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda namun satu jua nampaknya berlaku untuk kulinernya. Salah satu yang bisa kita ambil contohnya adalah soto, hanya penulisannya saja yang berbeda walaupun lafalnya hampir mirip terdengar, caudo, coto, tauto, sauto atau soto. Makanan ini termasuk pengembangannya dapat kita temui sedari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Menurut Dennys Lombard seorang professor berkewarganegaraan Perancis yang telah meneliti kebudayaan nusantara selama tiga puluh tahun menyebutkan dalam bukunya yang terkenal  Nusa Jawa: Silang Budaya, bahwa asal muasal soto adalah makanan oriental bernama caudo, pertama kali populer di wilayah Semarang. Berkembang ke seantero nusantara, Perbedaan daerah soto tersebut mempengaruhi pula pada perbedaan bahan, cara penyajian dan rasanya namun satu persamaan yang ada adalah bentuk makanan ini yang menyerupai sup berkuah. Salah satunya adalah Caudo dari Lamongan yang ada dimana-mana.

Berbeda dengan soto-soto dari daerah lainnya yang biasa memisahkan kuah soto dengan nasinya, soto ini biasa menyatukan nasi kedalam kuah soto. Bahan-bahan pembuat Soto Lamongan diantaranya: daging ayam biasa dipakai sebagai lauk utama dengan bumbu-bumbu  bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, kemiri dan merica ditambah lengkuas, sereh, cengkai, garam dan air jeruk nipis yang menjadikan kuahnya berwarna kuning bening yang gurih dan wangi. Sebagai bahan pelengkap tauge, telur rebus, bawang putih goreng dan cabe rawit. Tambahan serbuk kuning terbuat dari kerupuk udang dan udang kering yang dihaluskan menambah gurih rasa dan kekhasan dari Soto Lamongan. Salah satunya yang ada di Bandung adalah Rumah Makan Lamongan H. Rael.

Rumah Makan ini mengandalkan soto khas lamongan sebagai andalannya. Sama halnya seperti perantau-perantau dari Lamongan sebelumnya, H. Rael pertama datang ke Bandung ikut bekerja dengan sejawatnya di kampung yang telah lebih dulu sukses berjualan di kota ini, tepatnya di tahun 1982. Selama beberapa tahun bekerja pada orang hingga akhirnya setelah merasa ilmunya bertambah dan sudah mampu, akhirnya H. Rael membuka dagangan sendiri. Berawal dari berdagang di kaki lima hingga akhirnya sukses memiliki rumah makan sendiri di kawasan jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Memang tidak sedikit yang mampu mengikuti jejaknya karena masih banyak yang berjualan di kaki lima bahkan ikut bekerja dengan orang. Kemauan yang keras serta belajar terus menerus yng membuatnya meraih kesuksesan hingga kini.

Memang berduyun-duyunnya penjaja soto lamongan di nusantara sedikitnya dipengaruhi oleh kesuksesan para pendahulunya. Kesulitan ekonomi yang membuat mereka tergiur untuk pergi meninggalkan kampung halaman mengadu nasib di perantauan hingga akhirnya tersebar ke seantero nusantara. Resep soto lamongan sendiri didapat secara turun-temurun. Namun ada yang menjadi ciri khasnya, soto ini berwarna bening tidak menggunakan santan. Walaupun demikian, ada yang unik dengan soto lamongan yang ada di Bandung kebanyakan. Seperti yang dituturkan oleh H. Rael, kebanyakan soto lamongan yang ada di Kota Kembang ini menggunakan santan walaupun penjualnya berasal dari lamongan. Ini disebabkan karena warga Bandung yang menyukai menyantap soto dalam keadaan hangat. Walaupun masih banyak pula yang menampilkan sosok soto ini secara aslinya seperti H. Rael. Ya itulah mungkin, tepo saliro dalam dunia perkulineran nusantara.

Soto Lamongan atau si caudo dari Lamongan salah satu dari makanan akulturasi  Tionghoa dan Nusantara yang dengan kehadirannya menambah kekayaan budaya kuliner Nusantara. Lewat perantau-perantaunya yang mengadu nasib dengan bejualan panganan ini membuatnya ada dimana-mana.

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *