Februari 4, 2015
Warna Nusantara (336 articles)
0 comments
Share

Belajar dari Kampung Naga

“Panyaur gancang temponan, parentah gancang lakonan, pamundu gancang caosan.” – Kampung Naga

Pemberitaan tentang Indonesia akhir-akhir ini memang kurang enak didengar. Politiknya, kenaikan angka kriminalitas hingga bencana alam marak kita dengar terjadi dimana-mana. Sewaktu kita kecil hingga beranjak remaja, seolah-olah kita dininabobokan dengan cerita akan keindahan dan kenyamanan Nusantara. Tapi toh memang itulah yang kita rasakan saat itu. Apa gerangan yang terjadi? Apakah manusia yang lebih modern dengan peralatan berteknologi canggih sebagai penyebabnya? Coba saja kita bandingkan dengan kehidupan di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, berikut ini.

Kampung Naga bukanlah sebuah kampung wisata melainkan kampung adat atau tuntunan, di sini segala sesuatu mengandung makna filosofi tersendiri. Dari tempat parkir, kampung ini hanya berjarak 500 meter. Untuk menempuhnya kita akan melewati anak tangga sebanyak 439 buah. Luas kampung ini 1,5 hektar. Uniknya, luasnya tidak boleh bertambah, secara turun temurun sedari nenek moyang tetap seluas itu. Di areal seluas itu terdapat 113 bangunan, 3 diantaranya adalah Masjid, Balai Kampung dan Lumbung Padi Umum. Dari 110 bangunan tempat tinggal dihuni oleh 108 kepala keluarga dengan total populasi 314 jiwa. Batas Kampung Naga dengan dunia luar adalah pagar bambu yang mengitarinya, walaupun demikian masih banyak warga Kampung Naga yang tinggal di luar area ini. Mereka biasa disebut dengan istilah “sanaga”. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada istilah Kampung Naga dalam atau luar.

Rumah huni di Kampung Naga sangat tertata dengan baik, saling berhadap-hadapan, maksudnya demikian adalah untuk mempermudah komunikasi. Berbentuk bangunan panggung dengan atap dari ijuk. Filosofinya terbalik maksudnya di siang hari yang terik memberi kesejukan dan di malam yang dingin memberi kehangatan. Bisa seperti itu karena atap dari ijuk akan menyerap panas matahari dan si panas akan dikeluarkan pada malam hari, uap bumi dari bawahpun keluar saat malam hari. Bagi warga Kampung Naga, rumah adalah rumah dan kamar mandi adalah kamar mandi, karena inilah rumah di sini tidak menyatu dengan kamar mandinya. Terkecuali Masjid, itupun hanya tersedia tempat wudhu saja.Rumah disini layaknya tubuh manusia terdiri dari badan, kepala dan kaki, si kaki panggung ini adalah kekuatan untuk berdiri yang membuat si bangunan lebih fleksibel ketika terjadi gempa bumi.

Kampung Naga berbatasan langsung dengan: di sebelah timur Sungai Ciwulan, sebelah timur bukit kecil, seberang sungainya hutan larangan. Hutan larangan ini tanpa terkecuali semua penduduk tidak boleh masuk ke sana. Bukan karena ada mahluk jahat yang menjaganya ataupun binatang buas yang hidup berkeliaran tetapi menjaga hutan tersebut agar terus lestari. Konsep pola hidup mereka adalah bersama alam bukan hidup di alam. Dengan pola hidup ini tidak aneh walaupun sejak jaman dahulu tinggal di bantaran sungai besar, di lembah dan tebing belum pernah sekalipun terkena bencana alam banjir dan longsor. Seperti apa yang mereka selalu percaya bahwa tidak ada bencana alam yang ada adalah bencana ahlak, ahlak buruk manusia yang merusak alam.

Mata pencaharian utama warga Kampung Naga adalah bertani dengan sampingannya beternak dan membuat anyaman bambu. Makanan yang dibuat oleh warga sebagian besar adalah dari hasil bertaninya. Makanan organik setiap hari mereka santap dengan mudahnya. Disebut organik karena tumbuhan yang mereka tanam dihasilkan dengan memakai pupuk kandang, padi ditumbuk sendiri hingga menjadi beras serta memakai kayu bakar sebagai alat perapiannya. Makanan khas Kampung Naga adalah Sayur Gembrung. Bahan-bahannya seperti layaknya sayur biasa, memakai tempe, cabe hijau, santan kelapa. Yang membuat rasanya berbeda adalah penambahan daun kecombrang muda. Disebut pula Sayur Gembrung karena biasanya sayur ini dihidangkan di acara adat Terbang Gembrung. Acara ini hanya dipentaskan di dalam Kampung Naga saja, bentuknya seperti tetabuhan rebana dan biasanya diadakan di malam takbiran Idul Fitri dan Idul Adha. Karena acaranya malam hari maka si panganan ini dibuat dengan rempah-rempah yang sifatnya menghangatkan tubuh.

Tidak diketahui secara pasti kapan Kampung Naga pertama berdiri. Dokumen-dokumen yang mencatatnya hangus terbakar api. Di tahun 1956 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan seluruh kampung. Kampung ini dibakar oleh gerombolan pemberontak DI/TII, di mana saat itu warga Kampung Naga menolak untuk ikut bergabung dengan mereka dan lebih memilih setia kepada NKRI. Hingga kini kampung ini setia kepada hukum yang berlaku di Indonesia, buktinya, setiap penduduk memiliki KTP, membayar PBB dan turut serta dalam Pemilu. Memiliki kepemimpinan yang formal dan non formal, yang formal memiliki ketua RT dan RW yang secara demokratis mereka pilih sendiri, yang non fromal adalah jabatan kuncen, lebe dan pundu adat yang merupakan jabatan turun-temurun dari nenek moyang. Kuncen adalah pemangku atau pengelola adat, lebe adalah pengelola sarana keagamaan, pundu adat pengayom warga. Warga Kampung Naga kini percaya bahwa kampung ini ada semenjak Islam turun, hal ini dibuktikan dengan batu keramat tempat dulu nenek moyang mereka melaksanakan Shalat.

Warga Kampung Naga hidup dengan penuh kesederhanaan dan memiliki toleransi yang tinggi. Salah satu contohnya adalah tidak adanya pesta setiap adanya warga yang menikah, bahkan undangan yang disebarpun lewat mulut ke mulut untuk menghindari kesenjangan. Siapapun warga Kampung Naga yang sudah sukses berkehidupan di luar kampung, kembali ke sana akan kembali fitrah alias kembali ke alam dan bertani. Menganut adat Sunda Sansakerta menjadikan Kampung Naga lebih memberi kebebasan warganya untuk mencari matapencaharian serta bersekolah di luar kampung. Mereka sangat terbuka dengan pendatang apapun latar belakang dan jabatannya pun halnya dengan penerimaanya, siapapun yang kesana akan diperlakukan sama.

Mungkin kita harus belajar ke Kampung Naga tentang bagaimana kita hidup dengan alam dan kesederhanaan serta toleransinya. Derasnya teknologi yang masuk namun dengan batas pagar bambu adatnya yang kuat mampu menyelamatkan kampung ini dari krisis moral, krisis sosial dan krisis alam.

 

Liputan dan Foto Donnie Kurniawan, Senior reporter dan Fadli Shaputra, Kontributor Warna Nusantara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *