Oktober 28, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

27 Rempah Didalam 1 Mangkok Mie Kocok

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

“Ibarat seperti mobil yang tidak diberi oli lama kelamaan akan rusak, demikian juga mie kocok ini lama kelamaan akan ditinggalkan orang apabila ke 27 rempahnya tidak lengkap, karena rasa pasti akan berbeda.” – Mang Dadeng, Pemilik Mie Kocok Mang Dadeng

Satu lagi panganan dari Bandung yang gaungnya sudah terdengar seantero Nusantara. Di luar Kota Bandung nama kota ini selalu menempel menegaskan asalnya dan menegaskan kelezatan rasanya. Dialah Mie Kocok atau lebih tegas lagi Mie Kocok Bandung.

Dari sekian banyak warung mie kocok di Bandung kami mendatangi salah satu yang boleh dibilang sebagai pelopornya, Mie Kocok Mang Dadeng. Berlokasi di Jl. Banteng, warung mie kocok ini sudah ada sejak tahun 1985. Itu untuk yang sekarang, untuk berjualan mie kocoknya sendiri Mang Dadeng sudah memulai berjualan dari tahun 1951. Dimulai dari memikul tanggungan kemudian mendorong roda sampai memiliki warung di Jalan Banteng. “Hidup yang sulit,” ujarnya mengenang masa lalu.

Mang Dadeng membantah anggapan bahwa mie kocok itu berasal dari Bandung sebab awalnya dia belajar membuat mie ini dari seorang pedagang mie rebus asal Jawa Tengah bernama Mas Uwel. Dinamai mie kocok karena ada penggunaan alat mengkocok dalam panci yang dipergunakan untuk mengkocok kuahnya. Namun demikian hasil kreasinya ini yang menjadikan mie kocok bisa terkenal hingga saat ini. Perbedaan yang utama mie kocok ini dengan mie yang lainnya adalah penggunaan serai, jahe dan daun salam.

Lebih jauh membahas tentang usahanya ini, Mang Dadeng bercerita bahwa berwira usaha itu sama juga dengan bersekolah. Mulai dari kelas dasar hingga ke perguruan tinggi. Sedari memulai berdagang sampai menemukan resep yang pas hingga menemukan cara bagaimana penikmat mie-nya kembali dan menjadi pelanggan. Tahapan-tahapan itu dijalani dengan proses yang lama.

Kembali ke mie kocoknya Mang Dadeng. Didalam setiap mangkok mie kocoknya terdapat 27 bumbu rempah. Bumbu rempah ini harus selalu ada walau bagaimanapun juga. Kenaikan harga tidak boleh dijadikan alasan karena ke 27-nya yang membuat mie kocok ini bertahan hingga sekarang. Bukan percaya pada klenik, namun bumbu-bumbu inilah yang membuat Mie Kocok Mang dadeng terkenal hingga sekarang. Ibarat seperti mobil yang tidak diberi oli, lama kelamaan akan rusak, demikian juga mie kocoknya, lama kelamaan akan ditinggalkan orang apabila ke 27 bumbu rempah tidak lengkap, karena rasa pasti akan berbeda. Berbeda dengan mie kocok lainnya Mie Kocok Mang dadeng menggunakan kaki sapi (kikil) sedangkan yang lain biasa menggunakan kulit sapi. Ini yang membuatnya maju dan bahkan ditiru oleh mie kocok lainnya. Untuk kaki sapi ini Mang Dadeng fanatik menggunakan sapi dari peternakan di Jawa Barat karena biasanya pakan ternak yang digunakan baik. Pakan ternak ini berpengaruh pada hasil kaki sapi setelah dimasak, dari segi keempukan dan rasanya berbeda. Satu lagi yang tak kalah penting adalah penggunaan limau sebagai pengganti cuka. Memang jatuhnya menggunakan limau jauh lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan cuka namun selain faktor kesehatan limau dapat menghilangkan rasa amis si kaki sapi.

Hingga saat ini 50 kaki sapi bisa habis digunakan di Mie Kocok Mang Dadeng bahkan angka itu bisa bertambah 2 sampai 3 kali lipatnya di hari sabtu dan minggu. Hingga ada guraunya satu-satunya hal yang dia takutkan adalah kepunahan sapi di dunia. Tidak terbesit untuk mewaralabakan usahanya karena dia takut pewaralabanya tidak sanggup memenuhi ke 27 bumbu tadi. Jika ingin menjadi pewaralabanya, dia harus belajar langsung dengan Mang Dadeng selama puluhan tahun. Penawaran untuk membuka waralaba atau cabang dia dapatkan hingga ke Papua namun yang dia pikirkan adalah ketersediaan bahan.

Usia mang Dadeng sekarang 72 tahun. Dengan 27 bumbu rempah dalam 1 mangkok mie kocoknya yang konsisten hingga saat ini telah melambungkan nama Mie Kocok ini, bahkan dengan embel-embel nama Bandung dibelakangnya seakan mempertegas eksistensi asalnya.

 

 

 

 

 

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_gallery type=”image_grid” interval=”3″ images=”2403,2404,2405,2406″ onclick=”link_image” custom_links_target=”_self”][/vc_column][/vc_row]

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *